iemawati

ahlan wa Sahlan in my blog….. :)

A.   Pengerti… Mei 13, 2012

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 8:19 pm
  1. A.   Pengertian Qunut

Qunut secara bahasa berarti  doa, atau : berdiri lama (thul al- qiyam), atau : khusyuk. Berdasarkan firman Allah dibawah ini: [1]

وَقُومُوا لِلهِ قَنِيْتِيْنَ

Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk. (QS Al-Baqarah [2]: 238)

Demikian pula penegasan Nabi Saw. Dalam sabdanya berikut:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ القِيَامِ

“ Sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan secara khusyuk’’. (HR Ahmad, Muslim, Ibnu Majah, dan Turmudzi).

Sedang menurut istilah adalah dzikir tertentu yang memuat doa dan pujian atau doa tertentu yang dibaca dalam sholat dan masih dalam keadaan berdiri.

  1. Macam-Macam Qunut
    1. Qunut  as- Shubh/ al- Fajr,  yaitu doa qunut yang dibaca dalam sholat subuh.
    2. Qunut  an- Nazilah, yaitu suatu hal yang disyariatkan dan amat disunnahkan ketika terjadi musibah dan kezaliman.
    3. Qunut al-Witr, yaitu doa qunut yang di baca dalam sholat witir.[2]read more…

 

  1. C.   Waktu- Waktu Membaca Qunut
  2. a.     Pada waktu sholat Subuh

Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.[3]

Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.
Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits

Sebenarnya permasalahan qunut dalam shalat Shubuh termasuk masalah khilafiyah. Menurut madzhab Syafi’I dan madzhab Maliki, membaca doa qunut dalam shalat Shubuh hukumnya sunat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ 3/504.[4]

مذهبنا أنه يستحب القنوت فيها سواء نَزلتْ نازلةٌ أم لم تنزِلْ وبهذا قال أكثر السلف ومن بعدهم أو كثير منهم وممن قال بهأبو بكر الصديق وعمر ابن الخطاب وعثمان وعلي وابن عباس والبراء بن عازِب رضي الله عنهم

Dalam madzhab kita (madzhab Syafi’i) disunnahkan membaca qunut dalam shalat Shubuh. Baik ada bencana maupun tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama salaf dan ulama setelahnya atau pendapat banyak ulama dari mereka. Termasuk yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khathab, Utsman, Ali, ibn Abbas, dan Barra` bin ‘Azib. 

Dari penjelasan di atas jelas bahwa membaca qunut dalam shalat Shubuh ternyata dilakukan oleh khulafa` ar-râsyidîn. Termasuk yang berpendapat demikian adalah shahabt ‘Ammâr bin Yâsir, Ubay bin Ka’b, Abu Mûsâ al-Asy’ary, ‘Abdurrahman bin Abi Bakar as-Shiddîq, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abu Halîmah Mu’âdz bin Hârits al-Anshâry, Sa’id bin Musayyab, Muhammad bin Sirin, dan lain-lain.[5]

Dasar pendapat ini adalah :

 مازال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في القجر حتى فارق الدنيا. 

Dari Anas bin Mâlik ia berkata,”Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika shalat Shubuh sehingga Beliau wafat.” (HR Ahmad bin Hanbal) 

عن إبن عباس قال كان رسول الله يعلمنا دعاء ندعو به في القنوت من صلاة الصبح (رواه البيهقي)

Dari Ibn ‘Abbâs ia berkata, “Rasulullah SAW selalu mengajari kami doa yang dibaca dalam qunut shalat Shubuh. (HR al-Baihaqy).

أن أنس بن مالك سئل : هل قنت النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الصبح؟ فقال : نعم. فقيل له : قبل الركوع أو بعده؟ فال : بعد الركوع

Dari Anas bin Malik, ia ditanya,”Apakah Rasulullah SAW membaca doa qunut dalam shalat Shubuh ? Beliau menjawab,”Benar.” Ia ditanya lagi,”Sebelum ruku’ atau setelah ruku’? Beliau menjawab,”Sesudah ruku’.” Musaddad berkta,”(hanya) membaca sebentar.” (HR Abu Dawud)

 عَنْ الْعَوَّامِ بْنِ حَمْزَةَ قَالَ ” سَأَلْتُ أَبَا عُثْمَانَ عَنْ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ قَالَ : بَعْدَ الرُّكُوعِ قُلْتُ : عَمَّنْ ؟ قَالَ : عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رضي الله تعالى عنهم ” رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَقَالَ : هَذَا إسْنَادٌ حَسَنٌ

Dari al-‘Awwâm bin Hmazah ia berkata, “Aku bertanya pada Abu Utsman tentang qunut dalam shalat Shubuh. Beliau menjawab,’setelah ruku’.’ Aku bertanya lagi,’Dari siapa?’ Beliau menjawab,’Dari Abu Bakar, Umar, dan Utsman (HR al-Baihaqy(.

Bagaimanapun perselisihan para ulama’ dalam hal ini, maka qunut itu termasuk sesuatu hal yang mubah, boleh dilakukan atau ditinggalkan. Hanya saja yang sebaik-baiknya adalah yang berasal dari petunjuk Nabi Muhammad Saw.

Lafadz Qunut Shubuh

أللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

 

Artinya: Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku beserta orang-orang yang telah Engkau berikan petunjuk. Sehatkanlah aku beserta orang-orang yang telah Engkau anugerahi kesehatan. Lindungilah aku beserta orang-orang yang telah Engkau berikan perlindungan. Berkahilah aku atas anugrah yang telah Kauberikan. Peliharalah aku dari kejahatan yang telah Engkau tentukan, karena sesungguhnya Engkau mampu menentukan, sedangkan yang lain tidak mampu melakukannya. Sungguh tiada kehinaan pada orang yang telah Kau mulyakan, dan tidak akan mulia orang yang telah Engkau Musuhi. Maha Mulia Engkau, wahai Tuhan kami yang Maha Tinggi. Aku mohon ampun dan bertaubat padaMu, ya Allah. Semoga rahmatMu ya Allah, senantiasa menyertai nabi Muhammad, keluarga dan sahabat semuanya. Segala puji bagiMu ya Allah Rabb al- ‘Alamin.’’

  1. b.    Pada waktu sholat Witir

Qunut dalam shalat witir. Qunut ini disyariatkan disetiap sholat witir secara berkala, berdasarkan hadîts al-Hasan bin ‘Ali  radhiyallahu ‘anhu. Beliaurahimahullah berkata:[6]

 

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajariku do’a-do’a yang aku ucapkan dalam witir yaitu:

 

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

(HR at-Tirmidzi dan dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Tirmidzî)

Demikian juga, hal ini di amalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsebagaimana dijelaskan Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dalam penuturan beliau:

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَنَتَ فِى الْوِتْرِقَبْلَ الرُّكُوعِ

“ Sesungguhnya Rasulullah Saw.melakukan qunut witir sebelum ruku’. ‘’ (HR. Abu dawud dan dishohikan- Al-Bani dalam shohih Abu Dawud)

Para ulama berbeda pendapat tentang qunut yang dilakukan pada saat shalat witir yang menyertai shalat qiyamullail atau taraweh menjadi :[7]

  1. Abu Hanifah mengatakan bahwa qunut didalam shalat witir adalah wajib dilakukan sebelum ruku’. Dua sahabatnya, Abu Yusuf dan Muhammad, mengatakan bahwa hal itu adalah sunnah dilakukan sebelum ruku’.
  2. Para ulama Maliki dalam pendapatnya yang masyhur serta Thawus dan juga riwayat dari Ibnu Umar menyebutkan bahwa qunut tidaklah disyariatkan didalam shalat witir. Dari Thawus disebutkan bahwa dia mengatakan,”Qunut didalam shalat witir adalah bid’ah.” dari Ibnu Umar bahwa dirinya tidaklah melakukan qunut didalam setiap shalat. Dan yang masyhur dari madzhab Maliki ini adalah dimakruhkan melakukan qunut didalam shalat witir. Ada juga riwayat dari Malik yang menyebutkan bahwa dia melakukan qunut di dalam shalat witir pada pertengahan akhir di bulan Ramadhan.
  3.  Para ulama Syafi’i didalam pendapatnya yang paling shahih adalah dianjurkan untuk melakukan qunut didalam shalat witir pada pertengahan akhir di bulan Ramadhan khususnya. Apabila seseorang melakukan shalat witir dengan satu rakaat maka hendaklah dia melakukan witir didalamnya dan jika dia melakukan witir dengan rakaat yang lebih dari satu maka hendaklah dia melakukannya pada rakaat terakhir. Ar Rofi’i berpendapat bahwa secara lahiriyah dari perkataan Syafi’i adalah memakruhkan qunut di luar pertengahan akhir dari bulan Ramadhan. Adapun tempat melakukan qunut didalam shalat witir adalah setelah mengangkat kepalanya dari ruku’, inilah pendapat yang benar dan masyhur. Adapun lafazh qunut didalam shalat witir seperti didalam shalat shubuh.
  4.  Para ulama Hambali mengatakan bahwa disunnahkan untuk melakukan qunut pada satu rakaat terakhir dari shalat witir setelah ruku’, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Anas bahwa Nabi saw melakukan qunut setelah ruku’” Ibnu Qudamah mengatakan,”…. Disyariatkan untuk melakukan qunut didalam shalat witir seperti pertengahan akhir dari bulan Ramadhan…” Seandainya seseorang bertakbir dan menagangkat kedua tangannya setelah membaca (surat) lalu melakukan qunut sebelum ruku’ maka itu dibolehkan, sebagaimana riwayat dari Ubai bin Ka’ab bahwa Rasulullah saw pernah melakukan qunut didalam shalat witir sebelum ruku.’” (al Mausu’ah al Fihiyah juz II hal 12333 – 12336)
  5. Bahwa doa qunut dalam sholat witir (di bulan Ramadhan, red) diperbolehkan dilakukan semua sepanjang tahun. [Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (witir) dilaksanakan sepanjang tahun, simak Mukhtasar Qiyamullail 125, lihat juga kitab at-Tarjih fii Masaailil Thaharah was Shalah oleh DR. Muhammad bin ‘Umar Bazmul hal 362-385. Dan kata Ma’mar:”Sesungguhnya aku qunut witir sepanjang tahun kecuali awal Ramadhan sampai dengan pertengahan saya tidak qunut, demikian juga dikalukan oleh Hasan al-Bahsri, ia menyebutkan dari Qatadah dan lainnya. Lihat Mushannaf ‘Abdurrazzaq 3/120 dengan sanad yang shahih. Serta Dari Ibrahim an-Nakha’i telah berkata ‘Abdullah:”ia tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut witir setiap malam sebelum ruku’.” Kata Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah:”Ini atsar yang kami pegang. HR Ibnu Abi Syaibah 2/305-306 atau 2/205]“.
  6. Do’a qunut dalam witir dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruku’, walaupun yang terbaik dilaksanakan sebelum ruku’.[Hadits Ubay bin Ka’ab:”bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku’. HR Abu Dawud no 1427, Ibnu Majah no 1182, sanad hadits shahih (lihat ‘Irwaul Ghalil 1/167 hadits no 426 dan Shahih Sunan Abi Dawud no 1266). Dan sebagaimana hadits Hasan bin Ali radiyallaahu ‘anhuma, dan ini riwayat yg shahih dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin Umar radiyallaahu ‘anhuma, bahkan diriwayatkan dari jumhur Sahabat, sebagaimana diriwayatkan Ibrahim al-Qamah:”Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dan para Sahabat Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku’.”Simak Diriwayatkan olsyaieh Ibnu Abi Syaibah 2/302 atau 2/202 no 12, dikatakan oleh al-hafizh dalam “Addirayah” sanadnya hasan. Syaikh Albani berkata sanadnya jayyid menurut syarat Muslim (Irwaa’ul Ghalil 2/166). Juga Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : “Boleh juga doa qunut sesudah ruku’ dan ditambah dengan melaknat orang2 kafir, lalu shalawat kepada Nabi shallalaahu ‘alayhi wasallam dan mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin, pada pertengahan Ramadhan, karena ada dalil dari para Shahabat radiyallaahu ‘anhuma di zaman Umar radiyallaahu ‘anhu. Simak Qiyamu Ramadhan hal.31-32]
  7. c.      Qunut yang di baca pada waktu terkena Musibah (Qunut nazilah)

Qunut ini juga disyari’atkan dengan dasar amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:[8]

قَنَتَ النَّبِىُّ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ                                                                              

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut (Nâzilah) selama sebulan, berdo’a untuk kehancuran Ra’i dan Dzakwân. (HR al-Bukhâri). Demikian juga dalam hadits yang lain:

 

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – شَهْرًا حِينَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan ketika para penghafal al-Qur’an dibunuh. (HR al-Bukhâri)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: Qunut disyari’atkan pada saat adanya bencana dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh ulama fikih dan ahli hadits. Ini diambil dari Khulafâ’ Râsyidîn. (Majmû’ Fatâwâ 23/108)

Syaikh Abdul Azhîm Badawi menjelaskan bahwa Qunut yang disyari’atkan dalam sholat fardhu hanyalah qunut Nazilah. (lihat Al-Wajîs Fî Fiqhi as-Sunnah wa al-Kitâb al-’Azîz .109).

  • Tata cara dan Hukum Qunut nazilah yang sesuai dengan rasulullah saw.

 

Pertama : Qunut Nazilah disyariatkan ketika terjadi musibah besar, dan boleh dilakukan pada semua shalat wajib yang lima.[9]

Banyak dalil yang mendasari hal ini antara lain yaitu:

  1. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” [HR. Bukhari-Muslim, dengan lafadz Muslim].
  2. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu’alaihi  Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada shalat Maghrib dan shalat Shubuh” [HR. Bukhari].
  3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Sungguh aku bersungguh-sungguh dalam mencontoh shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi  Wasallam”. Dan pernah Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berdoa Qunut pada raka’at terakhir shalat Zhuhur dan shalat Isya serta shalat Shubuh setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ kemudian ia berdoa untuk kebaikan kaum mu’minin dan keburukan kaum kafir. [HR. Bukhari-Muslim].
  4. Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut dengan selama sebulan dan dilakukan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan shalat Shubuh pada setiap raka’at terakhir setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ beliau mendoakan kehancuran bagi Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwan dan Ushayyah. Kemudian orang-orang dibelakangnya mengamini” . Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dengan sanad jayyid. An Nawawi berkata: “Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad hasan dan shahih” [Al Majmu’, 482/3].  Ibnul Qoyyim berkata: “Hadits ini shahih” [Zaadul Ma’ad, 208/1]. Al Albani menghasankan hadits ini [Lihat Shahih Sunan Abi Dawud juz 1443]ز

Dari beberapa hadist diatas dapat disimpulkan bahwa Disyariatkannya doa Qunut Nazilah saat terjadi musibah. Ibnu Taimiyah berkata: “Dianjurkan berdoa Qunut saat terjadi musibah. Pendapat ini adalah pendapat fuqaha ahli hadits dan didasari oleh riwayat-riwayat dari Khulafa Ur Rasyidin” [Majmu’ Fatawa 108/23]

 

Kedua : Membatasi doa Qunut pada apa yang menjadi musibah saat itu.

Tidak dianjurkan menambah doa tentang hal lain pada doa Qunut. Karena yang benar adalah mencukupkan doa Qunut pada apa yang menjadi musibah saat itu saja. Inilah yang nampak dari dalil-dalil yang telah lewat dan juga dalil yang lain bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengulang-ulang doa Qunut yang sama ketika beliau melakukan doa Qunut dalam sebulan penuh. Walau terkadang beliau berdoa Qunut dengan doa yang agak sedikit berbeda.[10]

 

Ketiga : Qunut Nazilah hanya dilakukan karena adanya sebab, yaitu musibah besar yang melanda kaum muslimin, jika musibah telah berakhir maka tidak dilakukan lagi.

Abu Hurairah berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak meneruskan doa Qunut setelahnya. Kemudian aku berkata kepada para sahabat: ‘Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak meneruskan doa Qunut’. Lalu ada yang bertanya: ‘Apakah kalian melihat mereka sudah datang? ” [HR. Muslim].

Ibnul Qoyyim berkata: “Qunut Nazilah dilakukan karena ada musibah yang menimpa suatu kaum atau beberapa orang. Dan Qunut Nazilah tidak dilakukan lagi setelah orang yang didoakan tersebut datang, atau telah terbebas dari tawanan, atau telah pulang dengan selamat, atau orang yang didoakan keburukan telah bertaubat. Karena disyariatkan Qunut Nazilah adalah untuk menghilangkan musibah tersebut, maka setelah hilang tidak lagi dilakukan Qunut Nazilah” [Zaadul Ma’ad 272/1].

 

 

 

Keempat : Qunut Nazilah tidak memiliki lafadz tertentu. Lafadz-nya disesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Disunnahkan untuk melakukan Qunut Nazilah ketika ada musibah, dan disunnah pula padanya mendoakan kaum muslimin yang sedang diperangi (musuh)” [Majmu’ Fatawa, 155/21]. [11]

Beliau juga berkata: “Dianjurkan seseorang yang melakukan Qunut Nazilah berdoa sesuai dengan musibah yang terjadi saat itu. Dan jika dalam doanya ia menyebutkan kaum mu’minin yang diperangi atau mendoakan kehancuran bagi orang-orang kafir yang memerangi mereka, maka itu adalah sebuah kebaikan” [Majmu’ Fatawa, 271/22]

Beliau juga berkata: “Umar Radhiyallahu’anhu melakukan Qunut Nazilah ketika musibah menimpa kaum muslimin. Dan beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan musibah yang terjadi. Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut pertama kali untuk mendoakan kehancuran bagi Kabilah Bani Sulaim yang telah membunuh para pembaca Al Qur’an. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa sesuai dengan keadaan tersebut. Kemudian pada kesempatan lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendoakan para sahabat yang dalam keadaan lemah. Pada kesempatan inipun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa sesuai dengan keadaan. Maka sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Khulafa Ar Rasyidin ini menunjukkan dua hal:

  1. Qunut Nazilah dilakukan karean adanya suatu sebab, adapun melakukannya secara rutin dan terus-menerus bukan termasuk sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  2. Doa Qunut Nazilah tidak ditetapkan lafadz-nya. Adapun lafadz-nya menyesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi. Sebagaimana doa Qunut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang pertama dan kedua. Juga sebagaimana doa Umar Radhiyallahu’anhu kepada orang yang memeranginya saat terjadi fitnah. Beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan musibah yang terjadi. “ [Majmu’ Fatawa, 109/23].

Dan berdoa dengan lafadz doa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang sesuai dengan musibah yang terjadi pada masa kita sekarang ini adalah sebuah kebaikan. Yaitu misalnya dengan lafadz:

اللهم أنج إخواننا المسلمين في فلسطين ، اللهم انصرهم ، اللهم اشدد وطأتك على اليهود المجرمين ومن شايعهم وأعانهم ، اللهم العنهم ، اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف

Artinya: “Ya Allah, berilah kemenangan pada dari kaum muslimin di Palestina. Ya Allah, tolonglah mereka. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang Yahudi yang nista, juga kepada sekutu dan pendukung mereka. Ya Allah, jatuhkan laknat kepada mereka dan jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf” Karena doa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lebih utama dan juga telah mencakup apa yang dimaksudkan.

Kelima : Dianjurkan mengangkat kedua tangan dalam doa Qunut.

Hal ini didasari hadits Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Tidak pernah kulihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam berdoa seperti doanya untuk para Qurra’. Dan pada saat itu aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada shalat Shubuh beliau berdoa Qunut sambil mengangkat kedua tangannya ” [HR. Ahmad, dengan sanad shahih. An Nawawi berkata: “Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad shahih atau hasan”]. [Al Majmu’, 479/3]

Dari Abu Rafi’, ia berkata: “Aku shalat di belakang Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu, beliau berdoa Qunut setelah bangun dari rukuk sambil mengangkat kedua tangannya dan membaca doa dengan suara keras” [HR. Baihaqi, ia berkata “Riwayat ini shahih di nisbatkan kepada Umar”. Dinukil dari Sunan Baihaqi 212/2]

An Nawawi berkata: “Dari Abu ‘Utsman ia berkata: ‘Biasanya Umar Radhiyallahu’anhu mengangkat kedua tangan saat Qunut’. Dan dari Al Aswad ia berkata: ‘Biasanya Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu mengangkat kedua tangan saat Qunut’. Imam Al Bukhari meriwayatkan hadits-hadits tersebut dalam Kitab Raf’ul Yadain.  dengan sanad shahih. Dan Imam Al Bukhari berkata: ‘Hadits-hadits ini shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam’ ” [Al Majmu’. 490/3].[12]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Pengertian Qunut

Qunut secara bahasa berarti  doa, atau : berdiri lama (thul al- qiyam), atau : khusyuk. Berdasarkan firman Allah dibawah ini:

وَقُومُوا لِلهِ قَنِيْتِيْنَ

Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk. (QS Al-Baqarah [2]: 238)

  1. Macam-macam Qunut

ü  Qunut  as- Shubh/ al- Fajr,  yaitu doa qunut yang dibaca dalam sholat subuh

ü  Qunut  an- Nazilah, yaitu suatu hal yang disyariatkan dan amat disunnahkan ketika terjadi musibah dan kezaliman

ü  Qunut al-Witr, yaitu doa qunut yang di baca dalam sholat witir

  1. Waktu-waktu membaca Qunut

      Pada waktu sholat Shubuh

Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama baik salaf maupun khalaf yang mewajibkan qunut pada shalat shubuh. Termasuk Al-Imam Asy-syafi’i rahimahullah dan para ulama dalam mazhabnya, mereka pun juga tidak pernah mewajibkannya. Mazhab Syafi’iyah hanya mengatakan bahwa qunut pada shalat shubuh itu sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Namun yang namanya sunnah tetap sunnah, tidak pernah sampai kepada wajib, apalagi rukun.

Padahal antara sunnah, wajib dan rukun, punya pengertian yang sangat berbeda dan spesifik. Rukun ibarat tiang pada bangunan, satu saja tidak terpenuhi, maka bangunan itu akan roboh. Bila salah satu rukun shalat tidak dikerjakan, maka shalat itu batal dan tidak sah. Harus diulangi lagi dari semula. Sementara bila hanya sunnah saja, maka bila tidak dikerjakan tidak akan merusak semua rangkaian ibadah shalat. Meski pun nilainya sunnah muakkadah sekalipun.

      Pada waktu sholat Witir

Bahwa doa qunut dalam sholat witir (di bulan Ramadhan, red) diperbolehkan dilakukan semua sepanjang tahun. [Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (witir) dilaksanakan sepanjang tahun, simak Mukhtasar Qiyamullail 125, lihat juga kitab at-Tarjih fii Masaailil Thaharah was Shalah oleh DR. Muhammad bin ‘Umar Bazmul hal 362-385. Dan kata Ma’mar:”Sesungguhnya aku qunut witir sepanjang tahun kecuali awal Ramadhan sampai dengan pertengahan saya tidak qunut, demikian juga dikalukan oleh Hasan al-Bahsri, ia menyebutkan dari Qatadah dan lainnya. Lihat Mushannaf ‘Abdurrazzaq 3/120 dengan sanad yang shahih. Serta Dari Ibrahim an-Nakha’i telah berkata ‘Abdullah:”ia tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut witir setiap malam sebelum ruku’.” Kata Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah:”Ini atsar yang kami pegang. HR Ibnu Abi Syaibah 2/305-306 atau 2/205]“.

      Qunut yang dibaca pada waktu terkena musibah (Qunut nazilah)

Qunut Nazilah dilakukan karean adanya suatu sebab, adapun melakukannya secara rutin dan terus-menerus bukan termasuk sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Doa Qunut Nazilah tidak ditetapkan lafadz-nya. Adapun lafadz-nya menyesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi. Sebagaimana doa Qunut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang pertama dan kedua. Juga sebagaimana doa Umar Radhiyallahu’anhu kepada orang yang memeranginya saat terjadi fitnah. Beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan musibah yang terjadi. “ [Majmu’ Fatawa, 109/23].

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sabiq Sayyid.  Fiqih Sunnah 2. Bandung : PT Alma’arif, 1976.

H.E. Saleh Hassan. Kajian Fiqh Nabawi & Fiqh Kontemporer. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2008.

http://www.Qunut dalam Shalat Witir « Belajar Praktis  Aqidah, Fikih dan Akhlak Islam.htm. di unduh pada hari kamis tanggal 10 november 2011, pukul 20.25 WIB

http://www.pesantrenvirtual.com/fk/027.shtml. di unduh pada hari kamis tanggal 13 November 2011, pukul. 18.15 WIB.

http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-qunut-dalam-sholat. diunduh pada hari kamis tanggal 10 November 2011, pukul. 20.30. WIB

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/qunut-pada-sholat-tarawih.htm. di unduh pada hari kamis  tanggal 10 november 2011, pukul. 20.30. WIB


[1] H.E. Hassan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi & Fiqh Kontemporer. (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2008)hal. 146

[2] http://www.pesantrenvirtual.com/fk/027.shtml. di unduh pada hari kamis tanggal 13 November 2011, pukul. 18.15 WIB.

 

[3] http://www.pesantrenvirtual.com/fk/027.shtml. di unduh pada hari kamis tanggal 13 November 2011, pukul. 18.15 WIB.

[4] Sabiq Sayyid.  Fiqih Sunnah 2. (Bandung : PT Alma’arif, 1976)hal. 44

[5] http://www.pesantrenvirtual.com/fk/027.shtml. di unduh pada hari kamis tanggal 13 November 2011, pukul. 18.15 WIB.

 

[6] http://www.Qunut dalam Shalat Witir « Belajar Praktis  Aqidah, Fikih dan Akhlak Islam.htm. di unduh pada hari kamis tanggal 10 november 2011, pukul 20.25 WIB

 

[7] http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/qunut-pada-sholat-tarawih.htm. di unduh pada hari kamis  tanggal 10 november 2011, pukul. 20.30. WIB

 

[8]http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/qunut-pada-sholat-tarawih.htm. di unduh pada hari kamis  tanggal 10 november 2011, pukul. 20.30. WIB

[9] http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-qunut-dalam-sholat. diunduh pada hari kamis tanggal 10 November 2011, pukul. 20.30. WIB

 

[10] [10] http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-qunut-dalam-sholat. diunduh pada hari kamis tanggal 10 November 2011, pukul. 20.30. WIB

 

[11]http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/qunut-pada-sholat-tarawih.htm. di unduh pada hari kamis tanggal 10 november 2011, pukul. 20.30. WIB

 

[12] http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/qunut-pada-sholat-tarawih.htm. di unduh pada hari kamis tanggal 10 november 2011, pukul. 20.30. WIB

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s









thanks…:)



flag map counter


my music

<iframe frameborder="0" width=""270"" height=""265"" src="https://wpcomwidgets.com?width=%22270%22&height=%22265%22&src=%22http%3A%2F%2Fassets.myflashfetish.com%2Fswf%2Fmp3%2Fmp-dog.swf%3Fmyid%3D88802886%26path%3D2012%2F05%2F13%22&quality=%22high%22&flashvars=%22mycolor%3DB99868%26mycolor2%3D48808C%26mycolor3%3DFFFFFF%26autoplay%3Dtrue%26rand%3D1%26f%3D4%26vol%3D100%26pat%3D0%26grad%3Dfalse%22&salign=%22TL%22&wmode=%22transparent%22&_tag=gigya&_hash=c17a76fe8773806d1a9d7c398b552dfc" id="wpcom-iframe-c17a76fe8773806d1a9d7c398b552dfc"></iframe>Music Playlist at MixPod.com
 
 
%d blogger menyukai ini: