iemawati

ahlan wa Sahlan in my blog….. :)

Desain Evaluasi Bahasa Arab Desember 19, 2012

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 9:57 pm

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Desain pembelajaran tidak hanyan berperan sebagai pendekatan yang terorganisasi untuk memproduksi dan mengembangkan bahan ajar, tetapi juga merupakan sebuah proses genetic yang dapat digunakan untuk menganalisis masalah pembelajaran dan kinerja manusia serta menetukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. 

Desain pembelajaran lazimnya dimulai dari kegiatan analisis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pembelajaran sesungguhnya yang perlu dicari solusinya. Setelah dapat menentukan masalah yang sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternaif solusi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran.  Seorang perancang program pembelajaran perlu menentukan solusi yang tepat dari berbagai alternatif  yang ada. Selanjutnya ia dapat menerapkan solusi tersebut untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Evaluasi adalah langkah selanjutnya, sehingga nantinya bias mengetahui rancangan atau desain yang sesuai dengan pembelajaran dan desain tersebut busa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.

  1. Rumusan Masalah
  1. Jelaskan tentang pengertian desain evaluasi pembelajaran bahasa Arab?
  2. Jelaskah tentang langkah-langkah dalam mendesain evaluasi pembelajaran bahasa Arab?
  3. Jelaskan tentang ruang lingkup tes bahasa Arab?
  4. Berikan contoh tentang desain evaluasi pembelajaran bahasa Arab?
  1. Tujuan

Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang definisi desain pembelajaran, langkah-langkah dalam mendesain evaluasi pembelajaran dan ruang lingkup tes bahasa Arab.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Desain Evaluasi

Desain Evaluasi merupakan salah satu bagian dalam proses  siklus desain pembelajaran. Desain Evaluasi terdiri dari dua kata yaitu desain dan evaluasi. Desain menurut Herbert Simon berarti proses pemecahan masalah. Suatu Desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linier yang di awali dengan penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut di uji cobakan kemudian dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil efektivitas rancangan (Desain) yang disusun.[1] 

Kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang mengandung kata dasar value “nilai”. Evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan data dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran. Proses evaluasi senantiasa diarahkan ke tujuan tertentu, yakni untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran.[2] Pada dasarnya evaluasi mencakup dua hal yaitu mengukur dan menilai.

Berdasarkan dua penjelasan tentang makna desain dan evaluasi dapat disimpulkan bahwa desain evaluasi merupakan rancangan dalam suatu proses  penilaian dan pengukuran dengan tujuan memperbaiki sistem pembelajaran.

Desain evaluasi harus sesuai dengan, serasi, dan selaras, dengan desain materi/bahan ajar, desain elemen kompetensi/hasil belajar, desain strategi/metode/ teknik pembelajaran. Ini mutlak penting agar kejujuran terpelihara dan kejujuran menjadi ruh dalam pembelajaran.[3]

  1. Langkah-Langkah dalam Mendesain Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab.

Penilaian dalam pelajaran bahasa Arab tetap harus mengacu pada empat standar kompetensi(SK) yang diatur dalam PERMENAG 2008 di antaranya adalah standar kompetensi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat SK tersebut harus di ujikan oleh seorang guru bahasa Arab secara komprehensif agar tingkat validitas penilaian dapat mencerminkan kemampuan seorang siswa dalam mempelajari bahasa Arab. Mengingat standar kompetensi yang ada pada pelajaran bahasa Arab ada empat maka sudah seharusnya soal bahasa Arab yang akan diujikan terdiri dari keempat unsur standar bahasa.[4]

Tahapan Penyusunan Soal (Tes) Bahasa Arab untuk menghasilkan suatu tes yang valid dan reliable, maka pembuat tes atau guru dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut.

Tahap Pertama adalah tahap persiapan. Pada tahap ini guru atau pembuat tes melakukan kajian terhadap kurikulum bahasa Arab dan buku pedoman pelaksanaan kurikulum untuk mata pelajaran bahasa Arab.

 Tahap kedua adalah pemilihan materi tes. Untuk menetapkan materi tes bahasa Arab yang benar-benar fixed dan selektif dapat dilakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:

a)      Menentukan komponen dan keterampilan berbahasa yang akan diteskan, misalnya tes kosakata, struktur, membaca, menulis atau tes berbicara.

b)      Menentukan pokok bahasan yang akan diteskan secara representatif (tidak bias dan tidak atas dasar subjektifitas penyusaun tes).

Tahap ketiga adalah menentukan bentuk dan jenis tes. Sebagaimana telah dikemukakan, tes komponen bahasa dan kemampuan berbahasa dapat disusun dalam bentuk subjektif dan atau objektif dengan segala variasinya atau jenisnya (kecuali tes keterampilan berbicara yang memiliki perlakuan khusus). Dengan ungkapan lain, tes yang disusun dapat berbentuk objektif dengan jenis pilihan ganda atau salah benar atau dapat pula berbentuk subjektif (esai).

Tahapan keempat menentukan jumlah butir tes. Perihal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah butir tes adalah alokasi waktu yang tersedia untuk penyelenggaraan tes. Untuk menentukan berapa jumlah butir tes yang harus disusun sesuai dengan waktu yang tersedia memang tidak ada batasan yang pasti. Akan tetapi, guru dengan nalurinya yang mengetahui kondisi objektif siswanya akan dapat menentukan jumlah butir tes yang sesuai dengan waktu yang tersedia. Berkaitan dengan hubungan penentuan jumlah butir tes dan alokasi waktu yang tersedia, seorang guru atau pembuat tes perlu juga memperhatikan bentuk tesnya itu sendiri. Sudah barang tentu waktu yang digunakan untuk menjawab soal dalam bentuk esai lebih banyak daripada untuk menjawab soal dalam bentuk pilihan ganda atau salah-benar. Misalnya, jika jumlah butir tes itu 25, maka proporsi jumlah item untuk masing-masing jenis tes adalah 10 item untuk tes pilihan ganda, 10 item untuk tes salah-benar, dan 5 item untuk tes esai. Demikian pula, proporsi jumlah butir tes untuk masing-masing sub kemampuan juga perlu diperhatikan.[5]

Tahap kelima adalah menentukan skor. Apabila jumlah butir tes sejumlah 40 (pilihan ganda) dengan skor tertinggi 100 dan semua butir tes diberi bobot skor sama, maka skor untuk jawaban yang benar pada setiap bbutir tes adalah 2,5. Cara lain misalnya, setiap butir tes diberi bobot 1 dan nilai tertinggi 100.

Apabila soal yang dibuat, baik yang berbentuk subyektif ataupun obyektif itu setiap butirnya mempunyai tingkat kesulitan dan kompleksitas yang berbeda, maka pihak guru atau pembuat tes dapat memberikan bobot yang berbeda. Artinya, suatu butir tes mempunyai bobot tinggi apabila butir tes tersebut lebih sulit dan kompleks bila dibandingkan dengan butir tes yang lain. Untuk menentukan tingkat kesulitan dan kompleksitas suatu butir tes dapat didasarkan pada jugment pihak guru atau pembuat tes. (keputusan berdasarkan pengetahuan dengan pertimbangan yang matang).

Tahap keenam adalah membuat kisi- kisi. Kisi- kisi merupakan panduan dari guru dalam menyusun atau mengembangkan suatu tes. Ibarat orang yang sedang melaut, kisi- kisi merupakan kompasnya, sehingga dia mengetahui posisi dia berbeda. Demikian pula, seorang guru atau pembuat tes akan dapat menghasilkan tes yang berkualitas sesuai dengan arah tujuannya apabila dipedomani oleh sebuah kisi-kisi. Tanpa adanya kisi-kisi yang jelas, maka sulit bagi guru atau pembuat tes dapat menghasilkan sebuah tes yang memenuhi kriteria tes yang baik, yaitu suatu tes yang valid dan reliabel.

Tahap ketujuh adalah menyusun butir tes berdasarkan kisi-kisi. Dalam penyusunan butir soal ini, ada rambu-rambu yang sebaiknya diperhatikan oleh guru atau pembuat tes yaitu:

  1. Bahasa yang digunakan jelas dan lugas
  2. Sistem (pernyataan pokok)pada setiap butir tes (terutama butir tes pilihan ganda atau salah benar) hanya berisi satu permasalahan
  3. Panjang kalimat untuk setiap option (khusus untuk butir soal pilihan ganda)relatif sama. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kemungkinan teste memilih option yang paling pannjang sebagai jawaban yang paling benar
  4. Letak jawaban yang benar (khusus untuk butir tes pilihan ganda maupun salah  benar) disusun secara acak (tidak linier). Artinya, harus dihindari letak jawaban benar yang berpola, misalnya (dalam soal pilihan ganda) berpola ab,ac dan ad atau berpola aa,bb, cc dan dd.

 

Tahap kedelapan adalah uji coba tes yang telah disusun. Idealnya, sebelum tes (soal) diberlakukan kepada siswa, perlu dilakukan uji coba terlebih dahulu. Uji coba ini bertujuan untuk mengetahui apakah tes yang disusun itu benar0- benar tes yang baik (shahih dan reliable) atau apakah tes yang disusun itu memiliki tingkat kesulitan yang normal dan benar- benar dapat membedakan kelompok teste yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah. Untuk mengetahui hal itu maka, setelah tes dilakukanlah analisis terhadap jawaban siswa (teste). Diantara variable yang dianalisis adalah analisis tingkat kesulitan, analisis daya beda, dan analisis reliabilitas.[6]

  1. Ruang Lingkup Tes Bahasa Arab

Tes merupakan alat ukur dalam proses evaluasi. Ruang lingkup tes bahasa dikategorikan menjadi dua yaitu tes komponen/unsur-unsur bahasa dan tes keterampilan bahasa.

            Adapun tes unsur-unsur bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Tes ashwat bahasa Arab.
  2. Tes Mufrodat bahasa Arab.
  3. Tes tarkib/ qowaid (tata bahasa).

Sedangkan tes keterampilan bahasa adalah sebagai berikut:read more (more…)

 

claket in time Mei 29, 2012

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 12:41 pm

https://www.4shared.com/video/qh2CRFdL/iemawati.html

 

claket in time (movie)

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 12:32 pm

claket in time (movie)

 

A.   Pengerti… Mei 13, 2012

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 8:19 pm
  1. A.   Pengertian Qunut

Qunut secara bahasa berarti  doa, atau : berdiri lama (thul al- qiyam), atau : khusyuk. Berdasarkan firman Allah dibawah ini: [1]

وَقُومُوا لِلهِ قَنِيْتِيْنَ

Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk. (QS Al-Baqarah [2]: 238)

Demikian pula penegasan Nabi Saw. Dalam sabdanya berikut:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ القِيَامِ

“ Sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan secara khusyuk’’. (HR Ahmad, Muslim, Ibnu Majah, dan Turmudzi).

Sedang menurut istilah adalah dzikir tertentu yang memuat doa dan pujian atau doa tertentu yang dibaca dalam sholat dan masih dalam keadaan berdiri.

  1. Macam-Macam Qunut
    1. Qunut  as- Shubh/ al- Fajr,  yaitu doa qunut yang dibaca dalam sholat subuh.
    2. Qunut  an- Nazilah, yaitu suatu hal yang disyariatkan dan amat disunnahkan ketika terjadi musibah dan kezaliman.
    3. Qunut al-Witr, yaitu doa qunut yang di baca dalam sholat witir.[2]read more… (more…)
 

my music…. :)

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 6:52 pm


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

 

Mei 10, 2012

Filed under: Uncategorized — iemawati @ 11:37 pm
 

Interferensi Bahasa

Filed under: makalahQ — iemawati @ 10:06 pm

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat dihindarkan. Adanya kedwibahasaan juga akan menimbulkan adanya interferensi dan integrasi bahasa. Interferensi bahasa yaitu penyimpangan norma kebahasaan yang terjadi dalam ujaran dwibahasawan karena keakrabannya terhadap lebih dari satu bahasa, yang disebabkan karena adanya kontak bahasa. Selain kontak bahasa, faktor penyebab timbulnya interferensi menurut Weinrich adalah tidak cukupnya kosakata suatu bahasa dalam menghadapi kemajuan dan pembaharuan. Selain itu, juga menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan, kebutuhan akan sinonim, dan prestise bahasa sumber. Kedwibahasaan peserta tutur dan tipisnya kesetiaan terhadap bahasa penerima juga merupakan faktor penyebab terjadinya interferensi.

  1. Rumusan Masalah
    1. Definisi Interferensi
    2. Macam- macam Interferensi
    3. Factor- factor Interferensi

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Interferensi

Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Wenreich (1953) untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual. Penutur yang bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian dan penutur multilingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Namun, kemampuan setiap penutur terhadap B1 dan B2 sangat bervariasi. Ada penutur yang menguasai B1 dan B2 sama baiknya, tetapi ada pula yang tidak, malah ada yang kemampuannya terhadap B2  sangat minim.

Dalam pristiwa Interferensi digunakannya unsur-unsur bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa , yang dianggap sebagai suatu kesalahan karena menyimpang dari kaidah atau aturan bahasa yang digunakan. Kalau dilacak penyebab terjadinya interferensi ini adalah terpulang pada kemampuan si penutur dalam menggunakan bahasa tertentu sehingga dia dipengaruhi oleh bahsa lain. Biasanya interfernsi ini terjadi dalam menggunakan bahsa kedua (B2), dan yang terinferensi ke dalam bahasa kedua itu adalah baahsa pertama atau bahasa ibu   

Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan terhadap B1 dan B2 sama baiknya, tentu tidak menuai kesulitan untuk menggunakan kedua bahasa bahasa itu terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan seperti ini oleh Ervin dan Osgod (1965:139)disebut kempuan yang sejajar. Sedangkan yang kemampuan terhadap B2 jauh lebih rendah atau tidak sama dari kemampuan terhadap B1 nya disebut berkemampuan bahsa yang majemuk.penutur yang mempunyai kemampuan majemuk ini biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan B2-nya karena akan dipengaruhi oleh B1-nya. [1]

  1. Macam-macam Interferensi Bahasa
    1. Interferensi Fonologi

Interferensi fonologis terjadi apabila penutur mengungkapkan kata-kata dari suatu bahasa dengan menyisipkan bunyi-bunyi bahasa dari bahasa lain.

Contoh: jika penutur bahasa Jawa mengucapkan kata-kata berupa nama tempat yang berawal bunyi /b/, /d/, /g/, dan /j/, misalnya pada kata Bandung, Deli, Gombong, dan Jambi. Seringkali orang Jawa mengucapkannya dengan /mBandung/, /nDeli/,/nJambi/, dan /nGgombong/.    

  1. Interferensi Morfologi

Interferensi morfologis terjadi apabila dalam pembentukan katanya suatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Penyimpangan struktur itu terjadi kontak bahasa antara bahasa yang sedang diucapkan (bahasa Indonesia) dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing).[2]

Contoh:           kepukul ? terpukul

dipindah ? dipindahkan

neonisasi ? peneonan

menanyai ? bertanya

  1. Interferensi Leksikal

Masuknya kata dari bahasa pertama (BI) kedalam bahasa kedua (B2) di tengah-tengah pembicaraan. Berbagai macam kata yang masuk dalam interferensi leksikal ini terdiri dari isim, fi’il, sifat, hal, huruf jer, huruf ta’ajub, dhomir-dhomir, dan tanda-tanda ma;rifat dan nakiroh.

Contoh:     sebagian mahasiswa indonesia yang belajar bahasa arab mengucapkan جئت حديثا ركبت موبيل مع زملائي

  1. Interferensi Sintaksis

Interferensi struktur kata B1 dalam struktur kata B2.

Contoh:     murid-murid Indonesia yang belajar bahasa arab mengucapkan الكتاب هذا جديد

  1. Interferensi Semantik

interferensi yang terjadi dalam penggunaan kata yang mempunyai variabel dalam suatu bahasa.

  1. Interferensi motorik

Penututr B1 yang menggunakan gerakan dan isyarat dalam berbicara B2, yang mana gerakan dan isyarat tersebut tidak diketahui oleh penutur B2.

 

  1. Interferensi kultural

Interferensi kultural dapat tercermin melalui bahasa yang digunakan oleh dwibahasawan. Dalam tuturan dwibahasawan tersebut muncul unsur-unsur asing sebagai akibat usaha penutur untuk menyatakan fenomena atau pengalaman baru.[3]

  1. Faktor-faktor Interferensi bahasa

Selain kontak bahasa, menurut Weinrich ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain:

  1.  Kedwibahasaan peserta tutur

Kedwibahasaan peserta tutur merupakan pangkal terjadinya interferensi dan berbagai pengaruh lain dari bahasa sumber, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Hal itu disebabkan terjadinya kontak bahasa dalam diri penutur yang dwibahasawan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan interferensi.[4]

  1. Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima

Tipisnya kesetiaan dwibahasawan terhadap bahasa penerima cenderung akan menimbulkan sikap kurang positif. Hal itu menyebabkan pengabaian kaidah bahasa penerima yang digunakan dan pengambilan unsur-unsur bahasa sumber  yang dikuasai penutur secara tidak terkontrol. Sebagai akibatnya akan muncul bentuk interferensi dalam bahasa penerima yang sedang digunakan oleh penutur, baik secara lisan maupun tertulis.

  1. Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima

Perbendaharaan kata suatu bahasa pada umumnya hanya terbatas pada pengungkapan berbagai segi kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan, serta segi kehidupan lain yang dikenalnya. Oleh karena itu, jika masyarakat itu bergaul dengan segi kehidupan baru dari luar, akan bertemu dan mengenal konsep baru yang dipandang perlu. Karena mereka belum mempunyai kosakata untuk mengungkapkan konsep baru tersebut, lalu mereka menggunakan kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkannya, secara sengaja pemakai bahasa akan menyerap atau meminjam kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkan konsep baru tersebut. Faktor ketidak cukupan atau terbatasnya kosakata bahasa penerima untuk mengungkapkan suatu konsep baru dalam bahasa sumber, cenderung akan menimbulkan terjadinya interferensi.

Interferensi yang timbul karena kebutuhan kosakata baru, cenderung dilakukan secara sengaja oleh pemakai bahasa. Kosakata baru yang diperoleh dari interferensi ini cenderung akan lebih cepat terintegrasi karena unsur tersebut memang sangat diperlukan untuk memperkaya perbendaharaan kata bahasa penerima.

  1. Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan

Kosakata dalam suatu bahasa yang jarang dipergunakan cenderung akan menghilang. Jika hal ini terjadi, berarti kosakata bahasa yang bersangkutan akan menjadi kian menipis. Apabila bahasa tersebut dihadapkan pada konsep baru dari luar, di satu pihak akan memanfaatkan kembali kosakata yang sudah menghilang dan di lain pihak akan menyebabkan terjadinya interferensi, yaitu penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber.

Interferensi yang disebabkan oleh menghilangnya kosakata yang jarang dipergunakan tersebut akan berakibat seperti interferensi yang disebabkan tidak cukupnya kosakata bahasa penerima, yaitu unsur serapan atau unsur pinjaman itu akan lebih cepat diintegrasikan karena unsur tersebut dibutuhkan dalam bahasa penerima.

  1. Kebutuhan akan sinonim

Sinonim dalam pemakaian bahasa mempunyai fungsi yang cukup penting, yakni sebagai variasi dalam pemilihan kata untuk menghindari pemakaian kata yang sama secara berulang-ulang yang bisa mengakibatkan kejenuhan. Dengan adanya kata yang bersinonim, pemakai bahasa dapat mempunyai variasi kosakata yang dipergunakan untuk menghindari pemakaian kata secara berulang-ulang.

Karena adanya sinonim ini cukup penting, pemakai bahasa sering melakukan interferensi dalam bentuk penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber untuk memberikan sinonim pada bahasa penerima. Dengan demikian, kebutuhan kosakata yang bersinonim dapat mendorong timbulnya interferensi.

  1. Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu

Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu pada bahasa penerima yang sedang digunakan, pada umumnya terjadi karena kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya penguasaan terhadap bahasa penerima. Hal ini dapat  terjadi pada dwibahasawan yang sedang belajar bahasa kedua, baik bahasa nasional maupun bahasa asing.  Dalam penggunaan bahasa kedua, pemakai bahasa kadang-kadang kurang kontrol. Karena kedwibahasaan mereka itulah kadang-kadang pada saat berbicara atau menulis dengan menggunakan bahasa kedua yang muncul adalah kosakata bahasa ibu yang sudah lebih dulu dikenal dan dikuasainya[5]

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Interferensi bahasa adalah adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual.

Macam- macam interferensi ada 6, yaitu:

  1. Interferensi fonologi
  2. Interferensi morfologi
  3. Interferensi leksikal
  4. Interferensi sintaksis
  5. Interferensi semantic
  6. Interferensi motorik
  7. Interferensi cultural

Factor factor yang mempengaruhi terjadinya interferensi :

  1. Kedwibahasaan peserta tutur
  2. Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
  3. Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
  4. Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan
  5. Kebutuhan akan sinonim
  6. Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu

DAFTAR PUSTAKA

Abdul chaer dan leonie agustina. 2010. sosiolinguistik perkenalan awal. Jakarta: PT. Rineka cipta.           

Nababan.1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Suwito. 1985. Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Cipta

Dimyathi, Afifudin.2010. محاضرة في عام اللإجتماعية. Surabaya  : مطبعة دارالعلوم اللغوية Lihat:http://lathifashofi.wordpress.com/2011/05/10/makalah-inteferensi/(jumat,04 Mei 12)

Lihat:http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/hakikat-hakiki-kemerdekaan/interferensi-dan-integrasi/ (selasa: 09 Mei 2012)

 

 

 


[1] Abdul chaer dan leonie agustina, sosiolinguistik perkenalan awal. PT. Rineka cipta(Jakarta:2010) Hal:120-123

[2] Nababan, Sosiolinguistik Suatu Penganta,(Jakarta: PT Gramedia Utama, 1984), Hal: 123-124

 

[3] Afifudin Dimyathi,muhadhoroh fi ilmi al ijtima’iyah.(Surabaya: mutbi’ah darul ulum allughowiyah, 2010) Hal: 105-109

[4] Suwito, Pengantar Awal SosiolinguistikTeori dan Problema.(Surakarta:henary cipta, 1985) Hal: 150

 









thanks…:)



flag map counter


my music

<iframe frameborder="0" width=""270"" height=""265"" src="https://wpcomwidgets.com?width=%22270%22&height=%22265%22&src=%22http%3A%2F%2Fassets.myflashfetish.com%2Fswf%2Fmp3%2Fmp-dog.swf%3Fmyid%3D88802886%26path%3D2012%2F05%2F13%22&quality=%22high%22&flashvars=%22mycolor%3DB99868%26mycolor2%3D48808C%26mycolor3%3DFFFFFF%26autoplay%3Dtrue%26rand%3D1%26f%3D4%26vol%3D100%26pat%3D0%26grad%3Dfalse%22&salign=%22TL%22&wmode=%22transparent%22&_tag=gigya&_hash=c17a76fe8773806d1a9d7c398b552dfc" id="wpcom-iframe-c17a76fe8773806d1a9d7c398b552dfc"></iframe>Music Playlist at MixPod.com