iemawati

ahlan wa Sahlan in my blog….. :)

Interferensi Bahasa Mei 10, 2012

Filed under: makalahQ — iemawati @ 10:06 pm

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat dihindarkan. Adanya kedwibahasaan juga akan menimbulkan adanya interferensi dan integrasi bahasa. Interferensi bahasa yaitu penyimpangan norma kebahasaan yang terjadi dalam ujaran dwibahasawan karena keakrabannya terhadap lebih dari satu bahasa, yang disebabkan karena adanya kontak bahasa. Selain kontak bahasa, faktor penyebab timbulnya interferensi menurut Weinrich adalah tidak cukupnya kosakata suatu bahasa dalam menghadapi kemajuan dan pembaharuan. Selain itu, juga menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan, kebutuhan akan sinonim, dan prestise bahasa sumber. Kedwibahasaan peserta tutur dan tipisnya kesetiaan terhadap bahasa penerima juga merupakan faktor penyebab terjadinya interferensi.

  1. Rumusan Masalah
    1. Definisi Interferensi
    2. Macam- macam Interferensi
    3. Factor- factor Interferensi

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Interferensi

Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Wenreich (1953) untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual. Penutur yang bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian dan penutur multilingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Namun, kemampuan setiap penutur terhadap B1 dan B2 sangat bervariasi. Ada penutur yang menguasai B1 dan B2 sama baiknya, tetapi ada pula yang tidak, malah ada yang kemampuannya terhadap B2  sangat minim.

Dalam pristiwa Interferensi digunakannya unsur-unsur bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa , yang dianggap sebagai suatu kesalahan karena menyimpang dari kaidah atau aturan bahasa yang digunakan. Kalau dilacak penyebab terjadinya interferensi ini adalah terpulang pada kemampuan si penutur dalam menggunakan bahasa tertentu sehingga dia dipengaruhi oleh bahsa lain. Biasanya interfernsi ini terjadi dalam menggunakan bahsa kedua (B2), dan yang terinferensi ke dalam bahasa kedua itu adalah baahsa pertama atau bahasa ibu   

Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan terhadap B1 dan B2 sama baiknya, tentu tidak menuai kesulitan untuk menggunakan kedua bahasa bahasa itu terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan seperti ini oleh Ervin dan Osgod (1965:139)disebut kempuan yang sejajar. Sedangkan yang kemampuan terhadap B2 jauh lebih rendah atau tidak sama dari kemampuan terhadap B1 nya disebut berkemampuan bahsa yang majemuk.penutur yang mempunyai kemampuan majemuk ini biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan B2-nya karena akan dipengaruhi oleh B1-nya. [1]

  1. Macam-macam Interferensi Bahasa
    1. Interferensi Fonologi

Interferensi fonologis terjadi apabila penutur mengungkapkan kata-kata dari suatu bahasa dengan menyisipkan bunyi-bunyi bahasa dari bahasa lain.

Contoh: jika penutur bahasa Jawa mengucapkan kata-kata berupa nama tempat yang berawal bunyi /b/, /d/, /g/, dan /j/, misalnya pada kata Bandung, Deli, Gombong, dan Jambi. Seringkali orang Jawa mengucapkannya dengan /mBandung/, /nDeli/,/nJambi/, dan /nGgombong/.    

  1. Interferensi Morfologi

Interferensi morfologis terjadi apabila dalam pembentukan katanya suatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Penyimpangan struktur itu terjadi kontak bahasa antara bahasa yang sedang diucapkan (bahasa Indonesia) dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing).[2]

Contoh:           kepukul ? terpukul

dipindah ? dipindahkan

neonisasi ? peneonan

menanyai ? bertanya

  1. Interferensi Leksikal

Masuknya kata dari bahasa pertama (BI) kedalam bahasa kedua (B2) di tengah-tengah pembicaraan. Berbagai macam kata yang masuk dalam interferensi leksikal ini terdiri dari isim, fi’il, sifat, hal, huruf jer, huruf ta’ajub, dhomir-dhomir, dan tanda-tanda ma;rifat dan nakiroh.

Contoh:     sebagian mahasiswa indonesia yang belajar bahasa arab mengucapkan جئت حديثا ركبت موبيل مع زملائي

  1. Interferensi Sintaksis

Interferensi struktur kata B1 dalam struktur kata B2.

Contoh:     murid-murid Indonesia yang belajar bahasa arab mengucapkan الكتاب هذا جديد

  1. Interferensi Semantik

interferensi yang terjadi dalam penggunaan kata yang mempunyai variabel dalam suatu bahasa.

  1. Interferensi motorik

Penututr B1 yang menggunakan gerakan dan isyarat dalam berbicara B2, yang mana gerakan dan isyarat tersebut tidak diketahui oleh penutur B2.

 

  1. Interferensi kultural

Interferensi kultural dapat tercermin melalui bahasa yang digunakan oleh dwibahasawan. Dalam tuturan dwibahasawan tersebut muncul unsur-unsur asing sebagai akibat usaha penutur untuk menyatakan fenomena atau pengalaman baru.[3]

  1. Faktor-faktor Interferensi bahasa

Selain kontak bahasa, menurut Weinrich ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain:

  1.  Kedwibahasaan peserta tutur

Kedwibahasaan peserta tutur merupakan pangkal terjadinya interferensi dan berbagai pengaruh lain dari bahasa sumber, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Hal itu disebabkan terjadinya kontak bahasa dalam diri penutur yang dwibahasawan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan interferensi.[4]

  1. Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima

Tipisnya kesetiaan dwibahasawan terhadap bahasa penerima cenderung akan menimbulkan sikap kurang positif. Hal itu menyebabkan pengabaian kaidah bahasa penerima yang digunakan dan pengambilan unsur-unsur bahasa sumber  yang dikuasai penutur secara tidak terkontrol. Sebagai akibatnya akan muncul bentuk interferensi dalam bahasa penerima yang sedang digunakan oleh penutur, baik secara lisan maupun tertulis.

  1. Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima

Perbendaharaan kata suatu bahasa pada umumnya hanya terbatas pada pengungkapan berbagai segi kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan, serta segi kehidupan lain yang dikenalnya. Oleh karena itu, jika masyarakat itu bergaul dengan segi kehidupan baru dari luar, akan bertemu dan mengenal konsep baru yang dipandang perlu. Karena mereka belum mempunyai kosakata untuk mengungkapkan konsep baru tersebut, lalu mereka menggunakan kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkannya, secara sengaja pemakai bahasa akan menyerap atau meminjam kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkan konsep baru tersebut. Faktor ketidak cukupan atau terbatasnya kosakata bahasa penerima untuk mengungkapkan suatu konsep baru dalam bahasa sumber, cenderung akan menimbulkan terjadinya interferensi.

Interferensi yang timbul karena kebutuhan kosakata baru, cenderung dilakukan secara sengaja oleh pemakai bahasa. Kosakata baru yang diperoleh dari interferensi ini cenderung akan lebih cepat terintegrasi karena unsur tersebut memang sangat diperlukan untuk memperkaya perbendaharaan kata bahasa penerima.

  1. Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan

Kosakata dalam suatu bahasa yang jarang dipergunakan cenderung akan menghilang. Jika hal ini terjadi, berarti kosakata bahasa yang bersangkutan akan menjadi kian menipis. Apabila bahasa tersebut dihadapkan pada konsep baru dari luar, di satu pihak akan memanfaatkan kembali kosakata yang sudah menghilang dan di lain pihak akan menyebabkan terjadinya interferensi, yaitu penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber.

Interferensi yang disebabkan oleh menghilangnya kosakata yang jarang dipergunakan tersebut akan berakibat seperti interferensi yang disebabkan tidak cukupnya kosakata bahasa penerima, yaitu unsur serapan atau unsur pinjaman itu akan lebih cepat diintegrasikan karena unsur tersebut dibutuhkan dalam bahasa penerima.

  1. Kebutuhan akan sinonim

Sinonim dalam pemakaian bahasa mempunyai fungsi yang cukup penting, yakni sebagai variasi dalam pemilihan kata untuk menghindari pemakaian kata yang sama secara berulang-ulang yang bisa mengakibatkan kejenuhan. Dengan adanya kata yang bersinonim, pemakai bahasa dapat mempunyai variasi kosakata yang dipergunakan untuk menghindari pemakaian kata secara berulang-ulang.

Karena adanya sinonim ini cukup penting, pemakai bahasa sering melakukan interferensi dalam bentuk penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber untuk memberikan sinonim pada bahasa penerima. Dengan demikian, kebutuhan kosakata yang bersinonim dapat mendorong timbulnya interferensi.

  1. Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu

Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu pada bahasa penerima yang sedang digunakan, pada umumnya terjadi karena kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya penguasaan terhadap bahasa penerima. Hal ini dapat  terjadi pada dwibahasawan yang sedang belajar bahasa kedua, baik bahasa nasional maupun bahasa asing.  Dalam penggunaan bahasa kedua, pemakai bahasa kadang-kadang kurang kontrol. Karena kedwibahasaan mereka itulah kadang-kadang pada saat berbicara atau menulis dengan menggunakan bahasa kedua yang muncul adalah kosakata bahasa ibu yang sudah lebih dulu dikenal dan dikuasainya[5]

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Interferensi bahasa adalah adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual.

Macam- macam interferensi ada 6, yaitu:

  1. Interferensi fonologi
  2. Interferensi morfologi
  3. Interferensi leksikal
  4. Interferensi sintaksis
  5. Interferensi semantic
  6. Interferensi motorik
  7. Interferensi cultural

Factor factor yang mempengaruhi terjadinya interferensi :

  1. Kedwibahasaan peserta tutur
  2. Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
  3. Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
  4. Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan
  5. Kebutuhan akan sinonim
  6. Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu

DAFTAR PUSTAKA

Abdul chaer dan leonie agustina. 2010. sosiolinguistik perkenalan awal. Jakarta: PT. Rineka cipta.           

Nababan.1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Suwito. 1985. Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Cipta

Dimyathi, Afifudin.2010. محاضرة في عام اللإجتماعية. Surabaya  : مطبعة دارالعلوم اللغوية Lihat:http://lathifashofi.wordpress.com/2011/05/10/makalah-inteferensi/(jumat,04 Mei 12)

Lihat:http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/hakikat-hakiki-kemerdekaan/interferensi-dan-integrasi/ (selasa: 09 Mei 2012)

 

 

 


[1] Abdul chaer dan leonie agustina, sosiolinguistik perkenalan awal. PT. Rineka cipta(Jakarta:2010) Hal:120-123

[2] Nababan, Sosiolinguistik Suatu Penganta,(Jakarta: PT Gramedia Utama, 1984), Hal: 123-124

 

[3] Afifudin Dimyathi,muhadhoroh fi ilmi al ijtima’iyah.(Surabaya: mutbi’ah darul ulum allughowiyah, 2010) Hal: 105-109

[4] Suwito, Pengantar Awal SosiolinguistikTeori dan Problema.(Surakarta:henary cipta, 1985) Hal: 150

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s









thanks…:)



flag map counter


my music

<iframe frameborder=Music Playlist at MixPod.com" class="alignnone" width="120" height="90" />
 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: